Tampilkan postingan dengan label Pelajaran SD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelajaran SD. Tampilkan semua postingan

Asal Usul Kota Surabaya

Asal Usul Kota Surabaya

ASAL USUL KOTA SURABAYA
Tulisan tertua yang menyebut nama Surabaya adalah Prasasti Trowulan I, berangka tahun Saka 1280 atau 1358 Masehi, yang mencantumkan sederet nama-nama tempat penambangan penting sepanjang Sungai Brantas, antara lain tertulis: “ … i trung, i kambangan çri, i tda, i gsang, i bukul, i çūrabhaya, muwah prakāraning naditira pradeça sthananing anāmbangi i madantĕn …”, yang artinya: “ … (di) Terung, Kambangan Sri (= Kebangsari sekarang?), Teda, Gesang, Surabaya, demikian pula halnya desa-desa tepian sungai tempat penyebarangan (seperti) Madanten …”.

“Nāgarakrtāgama”, yang ditulis oleh Empu Prapanca di abad XV, juga menyebut-nyebut nama Surabaya dalam rangkaian kalimat berikut: “ … yan ring janggala lot sabhā nrpati ring surabhaya manulus mare buwun”. Artinya: “ … kalau di Jenggala Baginda selalu singgah di Surabaya, (lalu) meneruskan ke Buwun.”

Ternyata asal-usul nama “Surabaya” memancing banyak ragam tafsiran. Ada yang menganggapnya sebagai suatu tonggak peringatan terjadinya sesuatu peristiwa sejarah yang penting. Tetapi ada juga yang menghubungkannya dengan sebuah fabel (dongeng binatang), yang mengisahkan pertarungan antara seekor ikan “sura” dan seekor “buaya”. Dari kata-kata “sura” dan “buaya” (dalam bahasa Jawa, “baya”) terbentuklah nama “Surabaya”.

Tentang fabel itu sendiri terdapat pula perbedaan pendapat. Ada yang menganggapnya tidak lebih daripada sebuah dongengan belaka, yang lahir dari khayalan seorang pendongeng. Tetapi ada pula yang menganggapnya sebagai cerita kiasan, yang melambangkan sesuatu peristiwa sejarah, yang lain lagi menganggapnya sebagai sebuah mitos alam.

Dengan contoh-contoh itu saja sudah Nampak betapa simpang siurnya masalah asal-usul nama Surabaya. Belum lagi adanya beberapa versi cerita yang berbeda-beda. Namun justru karena perbedaan-perbedaan itu malahan menarik sekali bagi seorang peneliti yang ingin mengkaji latar belakang sejarah terjadinya Kota Surabaya.

Heyting, misalnya, dalam“Oudheidkundig Verslag 1923”, telah memaparkan pendapatnya, bahwa Surabaya berasal dari suatu peristiwa pemberontakan seorang kelana bernama Bhaya terhadap Kerajaan Singasari di bawah pemerintahan Kertanagara. Peristiwa itu tercatat dalam “Nāgarakrtāgama”, “Pararaton”, dan “Kidung Panji Wiajayakrama”. Meskipun ketiga bacaan tersebut berbeda-beda menyebutkan nama pemberontaknya, yaitu: “Nāgarakrtāgama” menyebut cayaraja, “Pararaton”, kalana aran bhaya, dan “Panji Wiajayakrama” bhayangkara, tetapi tentang waktu terjadinya pemberontakan itu boleh dikatakan tidak terdapat selisih yang jauh, dan pasti sebelum pengiriman ekspedisi Pamalayu oleh Krtnagara di tahun 1275.

Tentang nama cayaraja yang disebut oleh “Nāgarakrtāgama”, oleh Heyting dibaca: bhayaraja, dengan alasan, bahwa dalam tulisan Jawa Kuno, aksara ca dan bha hampir serupa. Dengan demikian Heyting menemukan nama-nama yang serupa: bhaya (raja), (kalana) bhaya, dan bhaya (angkara), dan menyimpulkan bahwa ketiga-tiganya identik. Arti kalana adalah raksasa, atau yang juga disebut asura. Adalah menjadi kelaziman raja-raja Jawa-Hindu menyebut lawan mereka dengan sebutan kalana, raksasa, atau asura. Alhasil, kalana aran bhaya adalah pula kalana bhaya atau asura bhaya. Dalam pada itu kalana sering pula digunakan sebagai nama raja. Sebagai contoh dikemukakan oleh Heyting, seorang raja Kamboja yang dalam “Serat Kandha” dinamakan Kalana Mahesa Sasi. Dalam akhir kesimpulannya Heyting menulis sebagai berikut:

Bagaimanapun juga, baik Bhaya yang dibinasakan oleh Krtanagara maupun Kalana Bhaya (Asura Bhaya), menggambarkan nama Surabaya dalam hubungannya dengan “kalana” atau “raja” Bhaya. Sebelum zaman Bhaya, nama Surabhaya belum dikenal, yaitu sebelum kira-kira tahun Saka 1192 (atau 1270 Masehi).
 
Dalam bukunya “Er werd een stad geboren” (1953), Von Faber mengambil alih pendapat Heyting tersebut, tetapi dihubungkannya dengan dongeng ikan sura dan buaya yang tersebut di muka, dan memperoleh kesimpulan, bahwa buaya merupakan sebuah simbolisasi dari Bhaya, sedang prajurit Krtanagara yang gagah berani yang melawan Bhaya tersebut dinamakan sura dalam arti berani. Itulah sebabnya, maka Surabaya sering disebut pula sura-ing-baya (berani dalam bahaya, Belanda dapper in gevaar). Jadi menurut Von Faber, kata sura bukan berasal dari asura (sinonim kata kalana) seperti pendapat Heyting, melainkan sura dalam arti berani, dalam hal ini yang dimaksud sifat keberanian prajurit Krtanagara yang melawan Bhaya.

Tetapi semboyan sura-ing-baya mendapat tafsiran lain dari seorang Belanda bernama C.V., termuat dalam “Bataviaasch Handelsblad” sekitar tahun 1880, jadi jauh lebih tua daripada pendapat Heyting dan Von Faber, demikian:
Selama perang melawan Surapati, bekas seorang budak berasal dari Bali, bernama si Untung, yang telah berhasil menjadi raja yang berdaulat di Jawa Timur, bertahun-tahun dapat mempertahankan kedaulatannya terhadap Kumpeni (VOC) dan Kerajaan Mataram, pihak Kumpeni telah mendirikan sebuah benteng pertahanan di daerah tempat Kali Mas dan Kali Pegirian bertemu, untuk menangkis serangan-serangan gerombolan Surapati (Untung) tersebut, yang dapat digagalkan
Hasil gemilang terhadap musuh yang menakutkan itu, menimbulkan gagasan untuk menamakan benteng tersebut, sura ing baya, yang berarti berani menghadapi bahaya, berasal dari kata syura (pahlawan) dan bhaya (menakutkan atau bahaya).

Betapa tidak logisnya tafsiran C.V. tersebut dapat dikemukan di sini, bahwa jauh sebelum Untung Surapati atau Kumpeni lahir, Surabaya sudah ada lebih dulu atas dasar Prasasti Trowulan I dan “Nāgarakrtāgama” (abad XIV). Surapati hidup akhir abad XVII awal XVIII (gugur tahun 1705).

Juga karena anakronisme, tidak logis tafsiran J. Hageman yang menyatakan, bahwa tempat yang sekarang bernama Surabaya itu, pada zaman Hindu bernama Ngampel Dhenta, dan oleh raja Jawa-Hindu terakhir dihadiahkan kepada seorang pemuka Islam bernama Raden Rahmat (Susuhunan Ngampel). Penyerahan ini disaksikan oleh pejabat-pejabat Jawa yang beragama Islam, dan dari sinilah kemudian dicetuskan rencana untuk memerangi dan merebut Majapahit. Setelah kerajaan Jawa-Hindu yang besar itu runtuh (tahun 1483), maka berkumpullah orang-orang Islam yang menang itu di Ngampel Dhenta. Karena nama ini membawa noda yang berbau Hinduisme, demikian Hageman, maka nama itu lalu diubah menjadi “Surabaya”, atau “Negara Surabaya” (tempat bagi yang jaya). Adapun dongeng tentang ikan dan buaya itu sendiri, Hageman menganggapnya omong kosong belaka. Senada dengan pernyataan Hageman terakhir tersebut adalah pendapat Ki Sugerman Atmodihardjo, yang menganggap dongeng tentang pertarungan ikan sura dan buaya sebagai suatu hal yang mengandung pengertian statis, tidak berpengaruh terhadap pendidikan kepratiotikan bangsa yang revolusioner, bahkan sebaliknya mematikan semangat kepahlawanan arek-arek Surabaya terutama. Lain halnya kalau Surabaya diartikan “berani mengatasi kesulitan” (Jawa, “wani ing kewuh”).

Profesor Dr. P.J. Veth pun beranggapan demikian. “Dalam bahasa Jawa”, demikian tulisnya, “kota ini mempunyai beberapa nama sinonim: Surabaya, Surapringga, Surabanggi, Surawesthi. Kata sura yang berulang kali tampil dalam nama-nama sinonim tersebut, rupanya mengungkapkan pengertian kepahlawanan atau keberanian, sedang kata-katabaya, pringga, banggi, dan westhi mempunyai arti bahaya atau kesulitan”.

Veth menulis pendapatnya itu dalam sanggahannya terhadap anggapan geolog Belanda yang menyatakan, bahwa nama Surabaya itu berasal dari nama Portugis: sura bahia, yang berarti pelabuhan yang aman. “Kalau demikian seharusnya disebut segura bayia”, tukas Prof. Veth. Dari kumpulan pendapat di atas, dapat kita lihat, bahwa semua menghubungkan istilah “Surabaya” dengan pengertian “keberanian” dan “bahaya”, lepas dari tafsiran masing-masing akan motivasinya, kecuali Heyting. Heyting dalam mengargumentasikan sura berasal dari asura (kalana, raksasa), memang tidak dapat kita terima. Sebab, pertama sura dan asura merupakan dua pengertian yang berlawanan, jadi tidak identik. Kedua, ejaan asli (Jawa Kuna) untuk Surabaya adalah Çūrabhaya, sehingga konsekuensinya, untuk asura (kalana, raksasa) Heyting harus mengejanya açūra, tetapi ini ejaan yang salah.

Jadi jelaslah, bahwa secara etimologis nama “Surabaya” atau tepatnya “Çūrabhaya” mengandung atau mengungkapkan pengertian “keberanian” atau “kepahlawanan”, dan “bahaya”. Masalahnya sekarang ialah kapan waktunya, dan apa motivasinya, maka nama yang mengandung pengertian “keberanian atau kepahlawanan” dan “bahaya” tersebut digunakan.
Menarik dalam hal ini keputusan Pemerintah Kotamadya Surabaya, yang telah menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Kota Surabaya. Penetapan tanggal tersebut mengambil dasar teori Heru Sukadri selaku anggota Tim Peneliti Hari Jadi Kota Surabaya, yaitu mengambil hari bersejarah ketika Raden Wijaya berhasil mengusir balatentara Tartar, utusan Kaisar Mongolia Kubilai Khan, dari bumi Jawa melalui kota pelabuhan samudera Hujunggaluh. Sebagai “jayacihna” (tanda kemenangan), maka Hujunggaluh itu pun dengan resmi diubah menjadi Surabaya (atau nama aslinya dieja Çūrabhaya) oleh Raden Wijaya yang sementara itu menjadi raja pertama Majapahit dan pendiri dinasti baru: Bra Wijaya. Namun, tanpa sedikit pun mengurangi aspirasi kepahlawanan bangsa dan moyang kita di masa silam, penetapan hari jadi 31 Mei 1293 bagi Kota Surabaya bukan tidak mengandung kelemahan-kelemahan, karena kurangnya data-data yang mendukungnya. Penetapan itu atas dasar hipotesa yang masih harus diuji lagi keotentikannya.

Perihal kepahlawanan Wijaya bersama pengikut-pengikutnya itu sendiri, untuk mengusir musuh-musuh balatentara asing dari Jawa, dengan menunjuk lokasi tempat-tempat atau daerah-daerah yang menjadi kancah perjuangannya di Surabaya sekarang dan sekitarnya, yang ditimbanya dari sumber-sumber otentik seperti prasasti Butak, prasasti Pananggungan, kronik Cina, Nāgarakrtāgama, Pararaton, Kidung Harsawijaya, Kidung Panji Wijayakrama, dan lain-lain, kiranya sudah tidak perlu diragukan lagi. Tetapi bahwa setelah kemenangan Wijaya pada tahun 1293, tepatnya pada tanggal 31 Mei, dengan terusirnya balatentara Tartar dari bumi Jawa melalui Hujunggaluh, lalu kota pelabuhan tua yang termasyhur itu mulai saat itu dengan resmi diubah menjadi Çūrabhaya oleh Wijaya sebagai “jayacihna”, inilah yang masih perlu diuji keotentikannya.

Kelemahan hipotesa 31 Mei 1293 sebagai hari jadi kota Surabaya terutama ialah, bahwa andaikata nama Çūrabhaya sudah diresmikan pada tanggal, bulan, dan tahun tersebut, (tentunya menurut perhitungan penanggalan Saka yang berlaku waktu itu), maka sebutan Çūrabhaya sejak saat itu akan sudah dikenal merata oleh masyarakat umum, dan pastilah menjadi sebutan sehari-hari. Adalah janggal sekali, bahwa literature-literatur sejaman atau sesudahnya, yang mengisahkan kehidupan raja Wijaya atau peristiwa-peristiwa yang langsung menyangkut nama Baginda seperti Kidung Harsawijaya, Panji Wijayakrama, Kidung Ranggalawe, Kidung Sorandaka, dan Pararaton tidak pernah menuturkannya. Padahal, sebagaimana kita ketahui, literature-literatur semacam itu ditulis demi kepentingan raja (raja-sentris), sedang tempat yang sekarang kita sebut Çūrabhaya itu sangat erat kaitannya dengan kejayaan perjuangan Wijaya, dan yang niscaya akan menambah keharuman dan kebesaran nama baginda. Tetapi dengan tidak disebutkan Çūrabhaya, Surabhaya, atau pun Surabaya dalam literatur-literatur tersebut di atas, juga tidak dalam kronik Cina atau pun inskripsi-inskripsi sekitar tahun 1293 atau sekitar masa kehidupan Raden Wijaya sebagai raja, maka saya cendrung beranggapan, bahwa Surabaya (atau Çūrabhaya) pada sekitar masa-masa tersebut memang belum ada. Baru di abad XIV untuk pertama kali ia disebut-sebut dalam prasasti Trowulan (1358 Masehi) dengan ejaan Çūrabhaya, “Nāgarakrtāgama” (pupuh 17:5) dengan ejaan Surabhaya, dan di abad XV dalam kronik Cina “Ying-yai Sheng-lan” (1416 Masehi).

Secara sepintas dapat kita rumuskan kembali berbagai pendapat dan teori tersebut, sebagai berikut:
- Teori Heyting (Bhayaraja – Singasari, 1270);
- Teori Von Faber (idem dikaitkan dengan dongeng ikan sura dan buaya);
- Teori C.V. (Surapati – Kumpeni, 1705);
- Teori Hageman (Ampel Dhenta, 1483);
- Teori Heru Sukadri (Wijaya – Tartar, 31 Mei 1293, yang diterima dan diresmikan oleh Pemerintah Daerah Kotamadya Surabaya sebagai hari jadi Surabaya).
Karangan ini yang bermaksud untuk menguak “Mitos Çūrabhaya”, ingin mengemukakan teori yang lain pula dengan menitikberatkan kepada segi pandangan mitologis. Untuk menelaah mitos Çūrabhaya ini lebih jauh dan mendalam, semula ada dua pendapat yang menarik hati:
Pertama, pendapat Ki Sugerman Atmodihardjo yang dimuat dalam majalah “Penelitian Sedjarah” tahun 1961 nomor ….. tentang asal-usul kota Surabaya, bahwa penelitian asa-usul nama kota (di Indonesia tentunya) hendaknya berpangkal pada falsafah sastra dan bahasa, seirama dengan kebudayaan Indonesia.

Kedua, pendapat L.C.R. Breemen, yang menafsirkan dongeng tentang pertarungan ikan sura dan buaya sebagai lambang “pertarungan abadi” antara laut dan daratan:
….. Zij kan namelijk slaan op den voortdurenden strijd tusschen het water en het land, wordende de dieren als de gebieders op den voorgrond gesteld, in welken strijd te Soerabaja het land inderdaad het water terugdrijft (aanslibbingen aan de mondingen onzer rivieren). De vloed is dan het overschrijden van zijn gebeid door den haai, terwijl de eb weergeeft de terugkomst van den krokodil van zijn strooptocht bovenstrooms; de eb drijft dan het water terug.
Merkwaardig is, dat het word “soero” in zoovele samenstellingen voorkomt. “Soero” moet met haai niets te maken heben in die samenstellingen, al noemt men een haai ook “soero”. De beteekenis is: dapper, strijdvaardig, of moedig.
Met “bojo” heft men een dergelijk geval. Het beteekent: strijd, strijder, held, dapper. Volgens de beteekenissen hierboven weergegeven, beduidt: “Soerowesti”, Dappere Ratu; “Soero – Pringgo”, Dappere Held; “Soero – ing – bojo”, Dappere Strijder.
Daar de “soero”, een dapper dier, op onze reede veel voorkwam en de bevolking hem dus kent, terwijl hetzelfde gezegd kan worden van den “bojo…, lijkt het niet onwaarshijnlijk, dat men voor de legende een, wellicht inderdaad tusschen die beide dieren gevoerd gevecht heft gekozen voor den symbolischen, eeuwigdurenden strijd tusschen land en water, omdat de voorstelling belangwekkender, dus niet zoo spoedig vergeten zou worden. De “soero” en de “bojo” bleken en wat hun hoedanigheden en wat hun namen betreft, geknipt voor de legende. 


( ….. Dongeng itu (pertarungan ikan sura dan buaya) dapat mengungkapkan suatu lambang tentang “pertarungan abadi” antara laut dan daratan dengan menampilkan binatang sebagai penguasa kedua wilayah masing-masing, yang di Surabaya memang ditandai dengan mundurnya (garis pantai) laut oleh endapan pasir dan lumpur di muara sungai-sungai kita. Laut pasang naik diibaratkan pelanggaran terhadap wilayah daratan oleh ikan hiu, sedang laut pasang surut mengiaskan direbutnya kembali wilayah tersebut oleh sang buaya.

Menarik sekali ialah, bahwa “sura” sering kita temukan dalam kata-kata gabungan. Dalam kata-kata gabungan itu tentu “sura” tidak ada hubungannya dengan ikan hiu, meskipun ikan hiu dinamakan juga “ikan sura”. Di sini “sura” berarti: gagah berani, pandai berkelahi, ganas. Dengan “baya” demikian pula halnya. Berarti: pertarungan, pejuang, pahlawan, pemberani. Menurut pengertian-pengertian tersebut di atas, maka “sura-westhi” berarti Ratu Pemberani; “sura-pringga” Pahlawan Pemberani; “sura-ing-baya” Pejuang Pemberani.
Karena (ikan) “sura”, seekor binatang yang pemberani, banyak terdapat di lautan kita, jadi sangat dikenal oleh penduduk, sedang demikian pula dapat dikatakan tentang “baya” (buaya), maka pada hemat saya bukan mustahil orang telah memilih dongeng pertarungan kedua binatang tersebut sebagai lambang pertarungan abadi antara daratan dan lautan, karena gambaran tersebut lebih menarik dan dengan demikian tidak mudah dilupakan. Baik sifat maupun nama mereka, ternyata “sura” dan “baya” cocok sekali untuk dongeng (legenda) tersebut).

Menanggapi dua pendapat tersebut, saya mendukung sepenuhnya pendapat Sugerman itu, tetapi justru karena demikian saya sekaligus juga meolak anggapannya, bahwa dongeng adalah suatu omong kosong yang tidak ada artinya, yang mengandung penertian statis, yang melemahkan, bahkan mematikan semangat kepahlawanan karena tidak memberikan pendidikan kepatriotikan bangsa yang revolusioner, dan sebagainya. Saya cenderung menguatkan pendapat, bahwa dongeng adalah manifestasi kebudayaan Indonesia, falsafah sastra dan bahasa Indonesia, khususnya Jawa. Dongeng Jawa terutama mempunyai kedudukan dan sifat yang khas, yang berbeda sama sekali dengan “sprookjes” atau “fairy tales”di negara-negara barat. Kalau “sprookjes” atau “fairy tales” diciptakan khusus bagi anak kecil, dengan diserasikan terhadap jiwa dan dunia anak-anak, sebaliknya dongeng Jawa berupa “prasemon”, berisikan falsafah, mengandung hikmah dan tamsil ibarat yang tinggi dan dalam, mempunyai maksud-maksud tertentu yang disembunyikan (sinandi).

Jadi dengan demikian, dongeng Jawa sebenarnya bukan lagi suatu konsumsi khusus bagi anak-anak melulu, sekalipun digubah dalam bentuk yang kadang-kadang naïf sekali. Inilah kearifan moyang kita dulu, yang menciptakan dongeng-dongeng itu tanpa batasan umur bagi yang membaca atau mendengarnya. Dan moyang kita itu juga bukan orang asing. Mereka adalah bagian dari masyarakat bangsa kita yang umumnya mistis-filosofis, suka kepada lambang-lambang dan prasemon-prasemon. Oleh karena itu dalam tuangan karya ciptaan mereka, mereka tidak dapat berbuat lain daripada memanifestasikan watak dan alam pikiran masyarakat bangsanya.

Dalam hal ini agaknya Breemen, juga Von Faber, cukup menyadari, dan karenanya lebih cermat menyelami watak dan alam pikiran bangsa kita, dan menganggap bahwa dongeng sama sekali bukan sesuatu yang naïf, yang statis, yang tidak mengandung pendidikan moral, mental, semangat, ya, pendek kata bukan hanya omong kosong belaka.
Pertarungan ikan sura dan buaya memang adalah sebuah dongeng, sebuah legenda, fabel, atau mitos, atau apa pun namanya, tetapi oleh Breemen ditelaah dan dikaji landasan riil dan sejarah yang melatarbelakanginya, digali dan dicari yang tersirat dan hubungannya dengan kota Surabaya.

Tetapi perbedaan pokok antara dongeng Sura-Baya hasil kajian Breemen dan mitos Çūrabhaya dalam karangan ini ialah, bahwa Breemen menganggap dongeng Sura-Baya sebagai simbolisasi kota Surabaya, atau tepatnya proses pasang surut air laut di muara sungai-sungai di Surabaya, sedang karangan ini sebaliknya mencari asal mula terjadinya kota Surabaya, yang motivasinya bersumber dari mitos ikan hiu dan buaya. Dengan menemukan motivasi itu diharapkan pula akan menemukan ancar-ancar data kapan terjadinya kota Surabaya


Sumber:
• Soenarto Timoer, Menjelajahi Jaman Bahari Indonesia Mitos Çūrabhaya Cerita Rakyat Sebagai Sumber Penelitian Sejarah Surabaya, Jakarta:PN. Balai Pustaka. Hal.13 -21. 

Asal Usul Kota Cianjur

Asal Usul Kota Cianjur

ASAL USUL KOTA CIANJUR
Di sebuah desa di Jawa Barat, hiduplah seorang saudagar yang memiliki hampir seluruh sawah di daerah itu. Namun, ia terkenal sangat pelit. Orang-orang menyebutnya Pak Kikir. Pak Kikir mempunyai seorang anak laki-laki yang dermawan dan baik hati. Secara sembunyi-sembunyi, ia suka menolong warga yang kesusahan.
Pada suatu ketika, Pak Kikir merasa harus mengadakan selamatan. Menurut kepercayaan masyarakat, kalau acara selamatan dilakukan dengan baik, hasil panen akan baik pula. Pak Kikir tak ingin panennya gagal. Oleh karena itu, ia mengadakan selamatan dan mengundang seluruh warga. .
Namun, Pak Kikir tidak menyediakan makan yang cukup bagi tamu yang sebagian besar warga tak mampu. Banyak tamu yang tidak kebagian makanan. .
Lalu, datanglah seorang nenek pengemis. Ia meminta sedikit nasi untuk mengisi perutnya yang lapar. Namun, si nenek malah dibentak oleh Pak Kikir. Nenek itu sangat sedih. Ia pun meninggalkan rumah Pak Kikir. .
Anak Pak Kikir yang melihat kejadian itu langsung mengambil jatah makannya dan mengejar nenek itu. “Ambilah makanan ini supaya nenek tidak lapar lagi,” kata pemuda baik hati itu. “Terima kasih, Nak, atas kebaikanmu. Kelak, kau akan mendapatkan kebaikan dan keselamatan karena sifatmu,” kata si nenek. .
Nenek itu masih sakit hati pada Pak Kikir. Lalu, pergilah ia ke puncak bukit. Dari puncak bukit itu, tampaklah rumah Pak Kikir paling besar dan paling megah di antara rumah warga sekitarnya. .

Nenek itu berucap lantang. “Ingatlah, Pak Kikir. Ketamakanmu akan menenggelamkan dirimu dan Tuhan akan membalas perbuatanmu!” .
Si Nenek menancapkan tongkatnya ke tanah, lalu mencabutnya lagi. Dari bekas tancapan tongkat itu, mengalirlah air yang semakin lama semakin deras menuju ke desa. “Banjir! Banjir!” Para penduduk berteriak panik melihat air yang mengalir semakin deras menuju desa mereka. Mereka berlarian menyelematkan keluarga mereka. .

Anak Pak Kikir pun segera memperingati semua penduduk agar mencari tempat aman. Ia juga mengajak ayahnya untuk meninggalkan rumah. .
“Apa? Meninggalkan rumah ini? Tidak! Aku harus menyelamatkan harta yang kusimpan di bawah tanah!” seru Pak Kikir. Ia pun berlari ke ruang bawah tanah di rumahnya. .
Air semakin deras. Karena tak ada waktu lagi untuk menunggu ayahnya, anak Pak Kikir pun berlari menyelamatkan diri ke atas bukit. Air bah itu pun segera menenggelamkan seluruh desa. .
Anak Pak Kikir dan sebagian penduduk selamat. Pak Kikir tenggelam bersama rumah dan harta bendanya. Para penduduk sangat sedih melihat desa yang tenggelam. Mereka memutuskan mencari daerah baru untuk tempat tinggal. Anak Pak Kikir diangkat sebagai pimpinan. .
Di daerah yang baru, anak Pak Kikir menganjurkan penduduk mengolah tanah, bagaimana mengairi sawah, dan menanam padi yang baik. .

Desa baru itu lalu diberi nama Anjuran karena penduduk selalu mematuhi anjuran pemimpin mereka. Lama-kelamaan, desa itu berkembang menjadi sebuah kota kecil bernama Cianjur. Ci artinya air. Menurut cerita, Cianjur berarti anjuran untuk mengairi dan mebuat irigasi yang baik. Hingga sekarang, Cianjur terkenal dengan hasil berasnya yang enak.

Sumber: .
Marina Asril Reza, 2011, 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara (Cerita Kepahlawanan, Mitos, Legenda, Dongeng, & Fabel dari 33 Provinsi), Jakarta: Visimedia 

ASAL MULA KOTA BALIKPAPAN

Asal Mula Kota Balikpapan

ASAL MULA KOTA BALIKPAPAN
Menurut cerita rakyat yang berkembang di Kalimantan Timur, konon di Tanah Pasir sudah berlangsung sistem pemerintahan kerajaan yang teratur. Rakyat hidup berkecukupan. Kekuasaan raja sangat luas. Daerah kekuasaannya sampai ke bagian selatan. Daerah itu berupa sebuah teluk yang sangat indah. Selain indah, daerah teluk itu juga makmur karena mengandung hasil bumi dan hasil laut yang berlimpah-limpah.

Kemakmuran daerah sepanjang teluk itu sangat dirasakan oleh masyarakat yang bermukim di tempat itu. Sebagian dari penduduk itu bermata pencaharian sebagai petani. Sebagian lagi bermata pencaharian sebagai nelayan. Masyarakat yang bermukin di daerah itu hidup dalam suasana damai, tenang, dan makmur. Semua anggota masyarakat hidup rukun. Mereka saling menolong satu sama lain. Pendek kata, masyarakat di sepanjang teluk itu hidup dengan nyaman.

Kenyamanan hidup masyarakat di daerah teluk ini juga didukung oleh sikap bijaksana sultan yang memerintah pada saat itu. Sultan Aji Muhammad, demikianlah nama sultan yang berkuasa saat itu. Nama sang sultan memang melambangkan kebesaran serta kesucian pemiliknya.
Sultan Aji Muhammad mempunyai seorang putri. Namanya Aji Tatin. Sultan Aji Muhammad sangat menyayangi Aji Tatin. Beliau sangat bangga akan putrinya itu. Aji Tatin seorang putri yang berwajah cantik jelita.

Tahun berganti tahun, masa pun segera berlalu. Aji Tatin putri Sultan Aji Muhammad pun tumbuh dewasa. Tiba saatnya Aji Tatin menikah. Maka, ayahandanya, Sultan Aji Muhammad, menikahkan putranya itu dengan seorang bangsawan. Putri Aji Tatin menikah dengan Raja Kutai.

Pesta pernikahan Aji Tatin dan Raja Kutai berlangsung dengan sangat meriah. Semua rakyat Sultan Aji Muhammad ikut menikmatinya. Mereka juga merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan keluarga kerajaan.

Setelah pesta pernikahan usai, Putri Aji Tatin menghadap Sultan Aji Muhammad, ayahandanya.
“Ayahanda, izinkan putrimu mengutarakan satu permintaan kepada Ayah,” demikian kalimat pertama yang diucapkan Aji Tatin saat menghadap ayahnya.

“Permohonan apakah yang Ananda inginkan dari ayahanda?” tanya Sultan Aji Muhammad kepada putrinya itu.

“Ayah, berkenanlah memberikan warisan kepada ananda demi masa depan ananda kelak,” demikian permohonan Aji Tatin kepada ayahnya.

Mula-mula ayahnya terkejut dengan permintaan putrinya itu. Namun, dengan senang hati Sultan Aji Muhammad pun mengabulkan permohonan putrinya itu.
“Anakku, ayah akan memberikan daerah teluk itu untukmu. Kuasailah daerah itu! Buatlah rakyat semakin makmur dan sejahtera. Niscaya, mereka akan selalu mengabdi kepadamu,” demikian pesan Sultan Aji Muhammad kepada anaknya itu.

“Terima kasih, Ayah. Putrimu pasti akan selalu menuruti nasihat Ayah. Saya akan membuat rakyat semakin makmur dan sejahtera.” 

Sultan Aji Muhammad lega mendengar kata-kata putrinya itu. Maka, sejak saat itu daerah teluk yang subur, makmur, dan sejahtera itu menjadi wilayah kekuasaan Aji Tatin.

Namun, agaknya pesan Sultan Aji Muhammad tidak diindahkan oleh putrinya itu. Putri Aji tatin pun meminta rakyatnya membayar upeti kepadanya. Mau tidak mau rakyat di sepanjang teluk yang dikuasai Putri Aji Tatin pun memenuhi permintaan pemimpinnya itu.

Pada suatu ketika Putri Aji Tatin meminta rakyatnya memberi upeti kepadanya berupa papan. Rakyat pun menyediakan upeti papan untuk Putri Aji Tatin.

Tibalah saat meminta upeti itu kepada rakyat. Orang-orang kepercayaan Putri Aji Tatin pun mendatangi rakyat di teluk daerah kekuasaan junjungannya itu. Dengan dipimpin oleh Panglima Sendong, mereka menuju teluk itu dengan perahu. Mereka menggunakan tanggar atau galah yang disebut tokong untuk mendayung perahu.

Satu per satu mereka mengumpulkan papan upeti rakyat. Papan-papan itu kemudian dibawa ke pantai dan dinaikkan ke dalam perahu. Setelah semua papan terangkut, perlahan-lahan mereka mendayung perahu meninggalkan teluk itu. Namun, malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih. Di tengah perjalanan perahu yang memuat papan upeti rakyat itu diterjang angin topan.

Tiba-tiba saja angin topan yang dahsyat datang menerjang perahu Aji Tatin. Tak pelak lagi perahu itu pun terbalik dan penumpangnya jatuh ke air. Dengan perlahan-lahan, para penumpang, yaitu Panglima Sendong dan anak buahnya, berusaha membawa perahu yang sarat muatan itu ke pantai.

“Ayo, kita bawa perahu ini ke pantai!” teriak Panglima Sendong mengajak anak buahnya mendorong perahu ke pantai.
“Ya, ayo! Kita dorong bersama-sama!” teriak salah seorang anak buahnya. Dengan segala tenaga, mereka pun berusaha mendorong perahu itu merapat ke pantai. Akan tetapi, mereka tidak berdaya. Perahu sangat berat. Muatan papan dalam perahu itu semakin menambah berat perahu. Angin topan yang begitu dahsyat dan gelombang ganas pun menggagalkan usaha mereka untuk merapatkan perahu itu.

Dengan tiba-tiba perahu itu pun terhempas ke sebuah pulau karang. Perahu yang sarat muatan berupa papan itu pun karam. Tokong atau galah pendayung juga karam. Panglima Sendong, pemimpin anak buah Putri Aji Tatin, beserta anak buahnya pun meninggal.

Peristiwa karamnya perahu yang membawa papan itu kemudian digunakan untuk menamai kota Balikpapan. Balikpapan maksudnya papan yang terbalik karena diterpa badai atau topan yang maha dahsyat.

Sementara itu pulau karang yang menyebabkan peristiwa terbalinya perahu itu makin besar. Pulau karang itu lama-kelamaan menjadi sebuah pulau yang ditumbuhi pohon-pohonan. Sampai sekarang pulau itu dinamai Pulau Tukung.

Sumber:
M.G. Hesti Puji Rastuti, 2007, Kumpulan Cerita Rakyat, Yogyakarta: Citra Aji Parama 

Sejarah Asal Mula Boyolali


Sejarah Asal Usul Kota Boyolali

Mengetahui sejarah suatu tempat tentu sangat menyenangkan sebagai tambahan ilmu pengetahuan, pada kesempatan ini Free Just 4 U kembali membagikan sejarah Asal Mula nama Kota Boyolali yang mungkin sudah banyak beredar di dunia maya ini.
Sejarah Asal Mula Boyolali bukanlah milik pribadi Free Just 4 U, kami hanya membagikannya kembali bagi sahabat yang ingin mengetahui Sejarah Asal Mula Boyolali.
Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Sejarah Asal Mula Boyolali

Boyolali merupakan salah satu nama kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Daerah ini termasuk daerah yang strategis karena wilayahnya dilalui oleh jalan negara yang menghubungkan Kota Solo dengan Semarang.

Asal mula nama Boyolali tidak lepas dari kisah perjalanan Kyai Ageng Pandan Arang menuju ke Tembayat untuk melakukan syiar Islam.

Alkisah, Kyai Ageng Pandan Arang atau Tumenggung Notoprojo adalah seorang bekas bupati di Semarang. Menurut ramalan Sunan Kalijaga, Kyai Ageng Pandan Arang nantinya akan menjadi Wali Penutup menggantikan kedudukan Syech Siti Jenar. “Wisikipun Sunan Kalijaga sampun priksa yen Kyai Ageng Pandan Arang punika ing tembe dados tiyang mukmin saged dados Wali Penutup anggentosi Syech Siti Jenar”.

Pada suatu ketika, Kyai Ageng Pandan Arang pergi ke Jabalkat di Tembayat bersama isterinya, Nyai Ageng Kaliwungu atau Nyai Ageng Karakitan, beserta puteranya yang bernama Pangeran Jiwo. Di dalam perjalanan tersebut usai dirampok di daerah yang sekarang dinamakan Salatiga, Nyai Ageng tertinggal jauh di belakang. Maka ucapnya, “Baya wis lali, Kyai teko ninggal aku”. Sumber lain menyebutkan, “Baya lan mami, adarbe garwa maring sun”. Tempat berkata Nyai Ageng tersebut sampai sekarang disebut Boyolali.

Tentang nama Boyolali, MS. Hanjoyo dalam Berita Buana (1976) menulis: Kira-kira 25 Km dari Salatiga, dalam perjalanannya, Kyai Ageng Pandan Arang duduk di atas batu besar sambil menanti isteri dan anak-anaknya yang masih jauh di belakang. Setelah lama dinanti tidak juga datang, Kyai Ageng Pandan Arang berkata, “ Baya wis lali wong iki”. Tempat itu kemudian disebut Boyolali. Letak batu besar tersebut sekarang di belakang Gedung Sana Sudara Boyolali. Karena dinanti lama tidak juga datang, maka Kyai Ageng melanjutkan perjalanan. Ketika Nyai Ageng sampai di tempat Kyai Ageng beristirahat tersebut, dilihatnya Kyai Ageng Pandan Arang sudah tidak ada. Nyai Ageng berkata, “Kyai, baya wis lali aku, teko ninggal bae”.

Jelas berdasarkan ceritera Kyai Ageng Pandan Arang dalam Babad Tanah Jawi, nama Boyolali berasal dari kata “boya lali” atau “baya lali”. Menurut Kamus Jawa – Belanda (JFC Geriecke en T. Roorda, 1901), “boyolali” disebut “boyowangsul” atau “bwangsul”. Kata ini menunjukkan nama sejenis pohon, yaitu Aglaia Lourn, suku Meliaceae, yang mungkin sejenis pohon apel Jawa.

Nama “boyolali” dalam Serat Angger-Anggeran Nagari atau Angger Gunung dalam bab 40 disebutkan Bayawangsul. Serat Angger-Anggeran Nagari itu merupakan Surat Keputusan Bersama antara Patih Raden Adipati Sasradiningrat di Surakarta dan Patih Raden Adipati Danurejo di Yogyakarta tahun 1840.

Dari pernyataan di atas jelas bahwa “boyolali” sama dengan “boyowangsul” atau “bwangsul”. Boyolali, apabila kita jadikan bahasa Jawa Krama, mestinya menjadi “bajulkesupen” atau “boyosupe” dan bukan “boyowangsul” atau “bwangsul”. Geriecke en Roorda, selanjutnya menjelaskan, dalam bahasa Jawa terdapat kata: wali dapat berubah menjadi bali atau mali, artinya wangsul atau bangsul. Maleni = mbaleni = mangsuli. Contoh lain: ora wali-wali = ora bali-bali, ora pisan-pisan, babar pisan; walik identik dengan balik; diwalik = dibalik, dibangsul atau diwangsul; ping wola-wali = ping bola-bali. Kemudian kata “lali” = supe, kesupen; kelalen = kesupen; boya lali = ora lali, boten kesupen, artinya eling = ingat, tidak lupa. Boyo lali = tidak lupa, ingat; sedang baya lali = apa lali? Juga dapat berarti ingat. Pertanyaan “Apa lali?”, jawabnya “Ora lali”, tidak lupa, sama dengan ingat. Jadi perkataan “boya lali” searti dengan “baya lali”, bwangsul. Gejala Boyolali menjadi Bayawangsul atau Bajulkesupen merupakan gejala hypercorrect, yaitu hal yang sudah benar masih dibenarkan lagi, akibatnya malah salah. Gejala ini banyak terdapat di dalam bahasa Jawa Krama, yaitu Krama Desa. Tujuannya untuk lebih menghormati orang yang diajak bicara. Contoh lain: Gedangan menjadi Pisangan; Surabaya = Surabanggi; Jambangan = Jambetan; Kedelai = Kedhangsul; Karanganyar = Kawisenggal; Masaran = Mekenan; Ketiga = Ketigen; Jaran = Kepel, dan sebagainya.

Berdasarkan uraian di atas, akhirnya sejauh ini nama Boyolali bersumber pada ceritera rakyat tentang Kyai Ageng Pandan Arang.


Sumber:
  • Tim Peneliti Universitas Sebelas Maret, 2010, Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Boyolali, Boyolali: WBC (Watutelenan Bicycle Community).


Asal - Usul Kota Semarang

Asal usul Kota Semarang

Banyak sekali cerita tentang asal - usul nama Kota semarang yang bertebaran baik di dunia nyata ataupun di dunia maya ini, dan yang Free Just 4 U bagikan adalah salah satunya.
Bagi sahabat yang ingin mengetahui Asal - Usul Kota Semarang, silahkan baca artikel di bawah ini, dan Free Just 4 U hanya sekedar berbagi.
ASAL USUL KOTA SEMARANG 
Pada zaman dahulu ada seorang pangeran bernama Raden Made Pandan dari Kerajaan Demak. Raden Made Pandan juga dikenal sebagai seorang ahli agama Islam atau ulama yang disegani oleh berbagai kalangan masyarakat. Raden Made Pandan mempunyai putera bernama Raden Pandanarang. Raden Pandanarang adalah anak yang baik, ramah, sopan santun, dan menghormati kedua orangtuanya. Suatu ketika Raden Pandanarang dan beberapa pengiring kerajaan diajak oleh Raden Made Pandan pergi dari wilayah Kesultanan Demak.
“Puteraku. Maukah kamu ikut pergi berkelana denganku? Besok kita akan meninggalkan wilayah Kesultanan Demak ini bersama-sama dengan beberapa pengiring kerajaan,” tanya raden Made Pandan kepada puteranya.
“Hendak kemanakah, Ayahanda?” ujar Raden Pandanarang penasaran. “Kita akan pergi menuju kearah barat. Di sana kita akan menyebarkan agama Islam. Konon, aku dengar tanah di daerah sana sangat subur. Persiapkanlah dirimu, Puteraku,” ujar Raden Made Pandan seraya menepuk pundak puteranya. “Baiklah, Ayahanda.”

Mereka akhirnya pergi kea rah barat. Hingga pada suatu hari, mereka sampai di suatu daerah yang subur. Kemudian mereka membuka hutan dan mendirikan rumah di daerah itu. “Kita berhenti di daerah sini saja. Segera perintahkan kepada para pengiring kerajaan untuk membabat beberapa pohon di hutan ini, kemudian dirikan sebuah rumah untuk tempat tinggal kita, puteraku,” perintah Raden Made Pandan dengan lantang.
Akhirnya Raden Made Pandan menyebarkan agama Islam di tempat itu dengan mendirikan pondok pesantren. Pada awalnya, hanya pengiring dan pengikutnya saja yang menjadi muridnya. Namun, semakin lama semakin banyak orang yang menjadi muridnya dan menetap di daerah itu. Suatu hari datang seorang pengiring kerajaan menghadap Raden Made Pandan.
“Gusti, di luar ada banyak penduduk yang datang. Mereka ingin belajar agama Islam di pondok pesantren ini. Bagaimana ini, Gusti?”
“Persilahkan mereka masuk ke pondok ini. Aku akan menerimaya menjadi muridku dan kita akan mendalami ajaran agama Islam bersama-sama,” ujar Raden Made Pandan.

Raden Made Pandan mengharapkan pada suatu saat nanti puteranya mampun menggantikannya sebagai guru agama Islam di daerah itu. Raden Made berwasiat kepada puteranya, Raden Pandanarang. “Puteraku, jika Ayah meninggal, maka teruskanlah perjuangan kita untuk menyebarkan agama Islam di daerah ini. Bimbinglah umat dalam mengolah lahan pertanian. Tetaplah tinggal di daerah ini. Dan selalu berpegang teguh kepada ajranan Para Wali. Insya’ Allah hidupmu kelak selamat dunia dan akhirat.”
“Baiklah, Ayahanda,” jawab Raden Pandanarang dengan penuh hormat.

Raden Pandarang selalu mengingat pesan orangtuanya. Setelah Raen Made Pandan meninggal dunia, Raden Pandanarang terus melanjutkan mengajar agama Islam kepada masyarakat dan mengelola tempat itu sebaik-baiknya. Semakin hari daerah itu semakin subur, hampir semua tanaman dapat tumbuh di daerah itu.

Banyak orang-orang lain dari luar daerah berdatangan dan menetap di daerah itu. Murid dan pengikut Raden Pandanarang pun semakin banyak.
Suatu ketika, Raden Pandanarang melihat suatu hal yang janggal. Di daerah yang subur, di antara pohon-pohon yang menghijau, tampak beberapa pohon asam yang tumbuhnya saling berjauhan. “Mengapa pohon-pohon asam itu tumbuh berjauhan, padahal tanahnya di sini subur, kan?” tanya Raden Pandanarang.
“Iya, Raden …!” jawab beberapa orang pengikut.
“Ini memang suatu hal yang tidak lazim terjadi.
Kalau begitu daerah ini akan kunamakan Semarang. Berasal dari kata sem yang jarang-jarang (asem kanga rang-arang).” Sebagai pendiri dan pembuka daerah Semarang yang pertama kali, maka Raden Pandanarang langsung diangkat sebagai pemimpin dan bergelar Ki Ageng Pananarang 1.
Demikian asal mula terjadinya kota Semarang yang sekarang ini adalah Ibukota Propinsi Jawa Tengah.

source : google.com


Buku Pelajaran SD Kurikulum 2013

Buku Pelajaran SD Kurikulum 2013

Perubahan kurikulum dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013 menyebabkan pula perubahan buku pelajaran yang digunakan. Kurikulum 2013 yang memakai metode tematik integratif untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) akan diterapkan pada kelas I dan IV terlebih dahulu. Buku pelajaran Kurikulum 2013 juga berbentuk Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang bisa didownload gratis.
Buku pelajaran disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan diberikan secara gratis bagi sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013 mulai 15 Juli mendatang. Sekolah-sekolah ini ditunjuk langsung oleh Kemdikbud. Bagi sekolah yang tidak ditunjuk pun dapat mengajukan diri untuk menerapkan Kurikulum 2013, tetapi untuk buku pelajaran disediakan sendiri oleh sekolah.
Buku pelajaran SD Kurikulum 2013 disusun oleh tim yang dibentuk oleh Kemdikbud. Untuk buku pelajaran SD Kurikulum 2013 terdiri dari dua jenis, yaitu buku untuk siswa dan buku pegangan guru. Buku pelajaran tidak lagi dipisahkan berdasarkan mata pelajaran melainkan melainkan dipisah berdasarkan tema. Berikut buku-buku pelajaran untuk kelas I dan IV SD Kurikulum 2013 yang bisa didownload secara gratis.
Download Buku Kurikulum 2013 Untuk Kelas 1 SD





  • Buku Siswa Kelas 1: PAI dan Budi Pekerti |
    Download
  • Buku Pegangan Guru Kelas 1: PAI dan Budi Pekerti |
    Download
  • Buku Siswa Kelas 1: Tema 1 Diriku |
    Download
  • Buku Pegangan Guru Kelas 1: Tema 1 Diriku |
    Download
  • Buku Siswa Kelas 1: Tema 2 Kegemaranku |
    Download
  • Buku Pegangan Guru Kelas 1: Tema 2 Kegemaranku |
    Download
  • Buku Siswa Kelas 1: Tema 3 Kegiatanku |
    Download
  • Buku Pegangan Guru Kelas 1: Tema 3 Kegiatanku |
    Download
  • Buku Siswa Kelas 1: Tema 4 Keluargaku |
    Download
  • Buku Pegangan Guru Kelas 1: Tema 4 Keluargaku |
    Download

  • Download Buku Kurikulum 2013 Untuk Kelas IV SD





  • Buku Siswa Kelas IV: PAI dan Budi Pekerti |
    Download
  • Buku Pegangan Guru Kelas IV: PAI dan Budi Pekerti |
    Download
  • Buku Siswa Kelas IV: Tema 1 Indahnya Kebersamaan |
    Download
  • Buku Pegangan Guru Kelas IV: Tema 1 Indahnya Kebersamaan |
    Download
  • Buku Siswa Kelas IV: Tema 2 Selalu Berhemat Energi |
    Download
  • Buku Siswa Kelas IV: Tema 3 Peduli Terhadap Makhluk Hidup |
    Download
  • Buku Pegangan Guru Kelas IV: Tema 3 Peduli Terhadap Makhluk Hidup |
    Download
  • Buku Siswa Kelas IV: Tema 4 Berbagai Pekerjaan |
    Download
  • Buku Pegangan Guru Kelas IV: Tema 4 Berbagai Pekerjaan |
    Download


    Buku-buku pelajaran BSE Kurikulum 2013 di atas bisa juga didownload gratis di situs bse.kemdikbud.go.id. Rencananya buku pelajaran SD di Kurikulum 2013 akan berlaku sekali pakai. Untuk tahun berikutnya, pemerintah akan mencetak buku baru. Setiap tahun akan dicetak buku pelajaran baru untuk SD.
    Sumber : SekolahDasar.Net